Minggu 30 Agustus 2026 — Medali Emas dan Hari Sabat

Eric Liddell adalah pelari cepat andalan Inggris untuk Olimpiade Paris 1924. Ia dijagokan memenangkan medali emas di nomor bergengsi 100 meter. Namun, ketika jadwal pertandingan keluar, jadwal larinya jatuh pada hari Minggu. Sebagai orang Kristen yang memegang teguh prinsip untuk mengkhuduskan hari Tuhan, Liddell mengambil keputusan radikal: ia menolak untuk berlari. Keputusannya menuai kecaman hebat; ia dicap sebagai pengkhianat bangsa. Namun, Liddell tidak sekadar berteori tentang imannya, ia menghidupinya. Ia kemudian berlatih untuk nomor 400 meter—bukan spesialisasinya—dan pada hari perlombaan, dengan secarik kertas di tangannya bertuliskan "Siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati," ia memecahkan rekor dunia dan meraih medali emas.

"Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran." (1 Yohanes 3:18)

Saudara, rasul Yohanes memberikan garis pemisah yang tajam antara kekristenan yang dangkal dengan pemuridan yang sejati. Kata "perbuatan" dalam teks aslinya adalah Ergon (pekerjaan/tindakan nyata), dan "kebenaran" adalah Aletheia (realitas yang sesungguhnya). Deklarasi iman menuntut harga ketaatan (ergon). Anda mungkin mendeklarasikan bahwa Tuhan adalah penyedia Anda, tetapi saat Anda dihadapkan pada godaan untuk mengambil untung dengan cara menipu klien atau memanipulasi timbangan, apa keputusan Anda? Menghidupi deklarasi berarti berani kehilangan "medali" keuntungan duniawi demi mempertahankan kemurnian di hadapan Tuhan.

  • Pertanyaan refleksi: Pernahkah Anda mengambil keputusan yang merugikan secara finansial semata-mata demi menaati firman Tuhan?
  • Kalimat kunci: Ketaatan yang sejati selalu memiliki harga yang harus dibayar, tetapi Tuhan tidak pernah berhutang kehormatan kepada mereka yang taat.

Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.