Sabtu, 5 September 2026 — HIDUP INI MILIK TUHAN
Eric Liddell menjadi terkenal ketika memenangkan medali emas lari 400-meter pada Olimpiade Paris 1924. Kemenangan itu sangat mengesankan karena Liddell sebelumnya menolak bertanding dalam nomor lari 100 meter, nomor yang sebenarnya menjadi keahliannya, sebab babak penyisihannya dijadwalkan pada hari Minggu. Ia memilih menghormati keyakinannya untuk tidak bertanding pada hari Tuhan, meskipun keputusan itu membuatnya kehilangan kesempatan meraih medali pada nomor tersebut.
Sebagai gantinya, Liddell berlatih untuk nomor 400 meter, meskipun banyak orang tidak menganggapnya sebagai favorit. Dalam perlombaan final, ia berlari dengan seluruh kekuatannya dan mencatat waktu 47,6 detik, sebuah rekor dunia pada masa itu. Kemenangan tersebut membuat namanya dikenal luas, tetapi bagi Liddell, medali emas bukanlah tujuan akhir hidupnya.
Setelah Olimpiade, Liddell tidak memilih untuk terus mengejar ketenaran sebagai atlet. Ia kembali ke Tiongkok, tempat ia dilahirkan dari keluarga misionaris, lalu melayani sebagai guru dan misionaris. Ia mengajar ilmu pengetahuan, membina para siswa, memberitakan Injil, dan melayani masyarakat di tengah situasi politik yang semakin tidak aman.
Ketika Jepang menguasai wilayah Tiongkok dan perang semakin meluas, Liddell tetap memilih tinggal dan melayani. Pada 1943, ia ditempatkan di kamp interniran Weihsien bersama banyak warga sipil lainnya. Di kamp itu, ia tetap mengajar anak-anak, memimpin kegiatan rohani, membantu mengatur kehidupan bersama, dan menguatkan orang-orang yang mengalami ketakutan serta kekurangan.
Liddell meninggal di kamp tersebut pada 21 Februari 1945, beberapa bulan sebelum kamp itu dibebaskan. Ia meninggal bukan sebagai seorang atlet yang sedang berada di puncak kejayaan, melainkan sebagai seorang pelayan Tuhan yang tetap setia dalam keadaan sulit. Prestasi olahraganya membuatnya terkenal, tetapi kesetiaannya kepada Tuhan menunjukkan tujuan hidupnya yang sesungguhnya.
Ia memiliki kemampuan luar biasa. Tetapi ia memahami bahwa hidupnya bukan miliknya sendiri.
Firman Tuhan berkata:
“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” — 1 Korintus 6:20
Saudara, Injil membawa stewardship ke tingkat yang lebih dalam.
Kita bukan hanya milik Tuhan karena Dia menciptakan kita. Kita adalah milik-Nya karena Kristus telah menebus kita.
Harga itu adalah darah Kristus.
Karena itu tubuh kita bukan milik sendiri. Kemampuan bukan milik sendiri. Masa depan bukan milik sendiri.
Semuanya milik Tuhan.
Ini berarti keputusan hidup kita seharusnya tidak hanya berdasarkan pertanyaan, “Apa yang saya inginkan?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang memuliakan Tuhan?”
Gunakan tubuh untuk kemuliaan-Nya. Jaga kesehatan. Gunakan pikiran dengan benar. Gunakan kemampuan untuk melayani. Gunakan masa depan untuk tujuan-Nya.
Hidup yang diserahkan kepada Kristus bukan kehilangan kebebasan.
Justru di sanalah kehidupan menemukan tujuan yang sesungguhnya.
Pertanyaan Refleksi:
Adakah bagian kehidupan yang masih saya anggap sepenuhnya milik sendiri sehingga sulit saya serahkan kepada kehendak Tuhan?
Ingatlah!
“Hidup yang telah ditebus Kristus menemukan tujuan terbesarnya ketika seluruhnya dikembalikan untuk kemuliaan-Nya.” Amin.
Newest Events
Kamis, 17 September 2026 — KEMBANGKAN KAPASITAS SAUDARA
Rabu, 16 September 2026 — JANGAN TUNGGU SEMPURNA UNTUK MELANGKAH
Selasa, 15 September 2026 — BISNIS JUGA DAPAT MENJADI PELAYANAN
Senin, 14 September 2026 — JANGAN KUBUR APA YANG TUHAN BERIKAN
Minggu, 13 September 2026 — APAKAH SAUDARA DAPAT DIPERCAYA?