Selasa, 21 April 2026 — Perlindungan Tuhan atas Wanita yang Berani (Hari Kartini)

Di tengah budaya patriarki yang kuat pada zamannya, Raden Ajeng Kartini berani melawan arus. Ia memperjuangkan pendidikan bagi perempuan, meskipun dibatasi oleh tradisi dan tekanan sosial. Kartini hidup dalam keterbatasan, tetapi memiliki visi yang besar. Ia mungkin tidak melihat sepenuhnya hasil perjuangannya, tetapi warisannya mengubah bangsa.

Namun jauh sebelum Kartini, Alkitab mencatat kisah seorang wanita yang berdiri di tengah ancaman maut—Ester.

Sebagai ratu, Ester memiliki posisi. Tetapi sebagai wanita Yahudi, ia berada dalam bahaya besar ketika bangsanya terancam dimusnahkan. Ia harus memilih: diam dan aman, atau bersuara dan mempertaruhkan nyawanya.

Ia berkata dengan iman:

“Kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” (Ester 4:16)

Saudara, keberanian Ester bukan berasal dari kekuatan dirinya, tetapi dari kesadarannya bahwa Tuhan memegang hidupnya.

Ia masuk menghadap raja tanpa jaminan keselamatan. Tetapi di sanalah perlindungan Tuhan dinyatakan. Raja mengulurkan tongkat emas. Ester tidak mati—ia dipakai Tuhan untuk menyelamatkan bangsanya.

Hari ini, melalui semangat Kartini dan iman Ester, saudara diingatkan bahwa Tuhan adalah pelindung bagi setiap wanita yang berjalan dalam panggilan-Nya.

Dunia mungkin membatasi. Situasi mungkin menekan. Tetapi Tuhan melihat, menjaga, dan menyertai.

Perlindungan Tuhan tidak selalu berarti hidup tanpa risiko. Tetapi berarti hidup dalam tangan Tuhan—yang tidak pernah gagal.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.