Jumat 15 Mei 2026 — Doa yang Memindahkan Gunung

Pendeta D. M. Tampubolon, seorang pendeta Batak yang rendah hati di pegunungan Sumatera Utara tahun 1970-an, menghadapi tantangan besar. Gerejanya kecil, jemaat miskin, dan daerahnya penuh dengan kekuatan kegelapan. Ia sering merasa tidak mampu memimpin. Suatu hari, ia mengunci diri di kamar doanya selama tiga hari tiga malam, hanya minum air. Di sana ia mengakui segala kelemahan dan ketidakmampuannya. Ketika ia keluar, ia mengajak jemaat berdoa bersama dengan satu hati. Tak lama kemudian, terjadi kebangunan rohani yang menyapu wilayah itu. Banyak orang datang bertobat, penyakit kronis disembuhkan, dan bahkan seorang kepala suku yang keras kepala menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Pendeta Tampubolon selalu berkata, “Aku bukan siapa-siapa, tapi Roh Kudus adalah segalanya.”

“Bukan dengan kuasa atau dengan keperkasaan, melainkan dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.” (Zakharia 4:6)

Saudara, kisah Pendeta Tampubolon mengajarkan bahwa doa yang sungguh-sungguh lahir dari hati yang mengakui kelemahan. Kita sering lelah karena mencoba memindahkan “gunung” dengan kekuatan sendiri. Padahal Tuhan tidak meminta kita kuat, Ia meminta kita mau bergantung. Ketika kita menyerahkan keterbatasan kita kepada Roh Kudus, Ia melakukan hal-hal yang mustahil. Di keluarga, pekerjaan, dan pelayanan kita, marilah kita belajar menjadi orang yang rendah hati sehingga kuasa Allah dapat dinyatakan dengan nyata.

Pertanyaan refleksi: Apakah ada “gunung” dalam hidup saudara yang terasa terlalu besar untuk diatasi? Sudahkah saudara mau datang dengan hati yang hancur dan bergantung sepenuhnya pada Roh Kudus?

Kalimat kunci: Bukan dengan usaha atau keperkasaan diri, melainkan dengan ketergantungan total pada Roh Kudus, kita akan melihat gunung-gunung bergeser.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.