Jumat 1 Mei 2026 — Menyerahkan Bakat Terbaik untuk Tuhan

Di London tahun 1870-an, Lilias Trotter adalah seorang seniman muda yang luar biasa berbakat. John Ruskin, kritikus seni paling berpengaruh saat itu, melihat lukisan-lukisannya dan berkata, “Jika engkau sepenuhnya mengabdikan diri pada seni, engkau akan menjadi pelukis terhebat di generasimu.” Tawaran itu menggiurkan: ketenaran, kekayaan, dan keabadian dalam dunia seni. Namun pada tahun 1887, Lilias mendengar seorang misionaris berdoa untuk Aljazair yang mayoritas Muslim. Ia merasa Tuhan memanggilnya. Meski ditolak oleh badan misi karena kondisi jantungnya yang lemah, Lilias tetap pergi dengan biaya sendiri bersama dua teman perempuan. Selama 40 tahun ia melukis di kasbah-kasbah kumuh, oasis gurun Sahara, dan kamp-kamp pengembara, menggunakan seni untuk menyentuh hati perempuan dan anak-anak Muslim.

“Sebab di mana hartamu berada, di situ hatimu akan berada juga.” (Matius 6:21)

Saudara, Lilias mengajarkan kepada kita bahwa bakat dan kesempatan yang Tuhan berikan bukanlah milik kita untuk dikejar demi kemuliaan diri sendiri. Ia rela melepaskan apa yang paling berharga di mata dunia demi memanggil yang lebih tinggi. Ketika kita menyerahkan bakat terbaik kita kepada Tuhan, Ia tidak akan menyia-nyiakannya, melainkan akan memakainya untuk menyentuh jiwa-jiwa yang tidak akan pernah tersentuh oleh cara lain. Tuhan tidak meminta kita menjadi sukses di mata manusia, Ia hanya meminta kita menjadi setia kepada panggilan-Nya.

Pertanyaan refleksi: Apakah ada bakat, mimpi, atau peluang yang masih saudara pegang erat, padahal Tuhan mungkin memanggil saudara untuk melepaskannya? Sudahkah saudara siap berkata, “Tuhan, ambillah yang terbaik dariku”?

Kalimat kunci: Ketika kita tidak mengerti mengapa Tuhan meminta kita melepaskan yang terbaik, iman sejati adalah tetap percaya bahwa pikiran-Nya jauh melampaui pemahaman kita.



Stay Connected

To stay up to date on everything happening at GBI Eben Haezer, subscribe to our weekly newsletter.